Bagaimana Trump dan Biden Mengolah Isu Agama di Pilpres AS



Politik identitas tak terelakkan di kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat 2024, kedua kandidat yang kembali bertarung, Joe Biden dan Donald Trump pun memainkan narasi agama.

Jika ditanyakan kepada Donald Trump dan Joe Biden, siapa yang paling agamis? Keduanya akan menjawab, “Saya.” 

Wartawati VOA Carolyn Presutti mengamati sikap dan tindakan Presiden Joe Biden dan mantan Presiden Donald Trump terkait isu agama.

Bagi sebagian pemilih, seperti Trey Mullins, menghadiri rapat umum Donald Trump bagaikan pergi ke gereja.

“Keyakinan saya pada Yesus sangat penting. Dan saya tahu Donald J. Trump, yang pernah menjadi presiden, yang melakukan tugas dengan baik sewaktu menjabat, yang akan kembali dan akan menegakkan nilai-nilai tersebut, akan menempatkan agama di kantor dan di negara kita,” ujar Mullins.

Komentar mantan presiden tersebut mengenai agama …

“Tuhan ada di sini, dan Tuhan mengawasi,” kata Trump.

Komentar tersebut mengena bagi kalangan kaum evangelis dan umat Kristen konservatif.

“Kami akan melindungi Kekristenan di sekolah-sekolah kita, di militer, dan di pemerintahan kita,” janji Trump.

Thomas Isbell menjual memorabilia Trump pada rapat umum. Ia menunjuk ke sebuah kaus.

“'God, Guns and Trump.' (Tuhan, Senjata Api dan Trump) Ini mungkin adalah salah satu kaus saya yang paling laris. Ini sudah ada selama dua atau tiga tahun ini.”

Tetapi Trump bukanlah tipikal orang Kristen konservatif. Mantan presiden ini telah dua kali bercerai. Dia sedang diadili atas tuduhan kejahatan memalsukan catatan bisnis, terkait uang tutup mulut kepada bintang film porno, yang diduga berhubungan seks dengannya.

Sidang pengadilan itu adalah satu dari beberapa kasus pengadilan yang akan dihadapi Trump. Menurut analis Robert P. Jones dari Public Religion Research Institute, Trump menggunakan sidang itu untuk membandingkan dirinya dengan Yesus, yang dipercaya umat Kristen meninggal demi dosa-dosa dunia.

“Trump telah menggunakan bahasa itu belakangan ini. Kita mendengarnya mengatakan, 'Saya didakwa karena kalian."

Walau tidak rutin ke gereja, Trump menjual Alkitab di platform Truth Socialnya.

Hasil jajak pendapat kantor berita Associated Press menunjukkan delapan dari 10 penganut Kristen Evangelis kulit putih memilih Trump dalam pemilihan presiden terakhir. Survei Pew Research Center tahun ini menunjukkan bahwa kaum Protestan kulit hitam lebih memilih Biden.

Baik pada Sabtu malam atau Minggu, Presiden Joe Biden menghadiri Misa Katolik, biasanya di tempat tinggalnya di Delaware, atau di Georgetown, jika ia berada di Washington. Ketaatan Biden pada agama, dicermati relawan kampanye Peter Sullivan.

“Sewaktu SMA, Biden masuk sekolah Katolik khusus laki-laki dan cukup serius dengan agamanya. Saya merasa cocok dengannya.”

Biden dan ibu negara bertemu Paus di Vatikan pada 2021. Paus Fransiskus mengatakan kepada Biden, presiden AS kedua yang menganut Katolik, bahwa dia dapat terus menerima Komuni Kudus, terlepas dari pandangannya tentang aborsi.

Sikap Biden terkait hak aborsi mempersulit sebagian umat Katolik. Jajak pendapat dari pemilu terakhir menunjukkan umat Katolik terpecah 50-50 antara Trump dan Biden.

Seorang pemilih, Aura Strietmann, mengatakan, “Isu nomor satu adalah isu pro-kehidupan. Sungguh menjijikkan melihat Joe Biden yang mengaku penganut Katolik, tidak membela warga negara yang belum lahir.”

Ketika berbicara tentang agama, Biden berbicara tentang inklusi.

“Pesan universal akan harapan, kegembiraan cinta, apakah kalian Kristen, Yahudi, Hindu, Muslim, Budha atau agama lain atau tidak beragama sama sekali, mengena untuk kita semua sebagai umat manusia di bumi ini terutama untuk peduli satu sama lain," ujarnya.

Secara keseluruhan, Biden menjalankan agama secara tradisional. Sedangkan Trump menyatakan Tuhan ada dalam kehidupannya.

Biden vs. Trump, Narasi Agamis Siapa yang Lebih Mengena bagi Warga AS?


voa
Next Post Previous Post