Bagaimana Bulan Mempengaruhi Kehidupan Kita di Bumi


Empat setengah miliar tahun yang lalu, dua planet bertabrakan dan bergabung menjadi satu: planet Bumi. Ketika kedua planet ini, proto-Bumi dan Theia, bertabrakan, massa batuan berputar menjadi Bulan.


Bulan adalah pendamping terdekat kita dalam luasnya ruang, secara intrinsik terkait dengan keberadaan kita, dengan ritme Bulan yang tertanam dalam siklus kehidupan di Bumi.

Efek paling jelas yang dimiliki Bulan terhadap Bumi dapat dilihat pada pasang surut air laut. Saat Bumi berotasi setiap hari, gravitasi Bulan menarik air di sisi terdekat Bumi ke arahnya, menciptakan tonjolan.

Laut menggembung di sisi yang berlawanan juga karena gaya sentrifugal yang disebabkan oleh rotasi bumi. Bumi berputar di bawah tonjolan air ini, menghasilkan dua pasang naik dan dua pasang surut yang kita lihat setiap hari.

Setiap 18,6 tahun, orbit Bulan "bergeser" antara maksimum dan minimum, plus atau minus 5 derajat relatif terhadap ekuator Bumi.

Siklus yang pertama kali didokumentasikan pada tahun 1728 ini disebut siklus nodal bulan. Ketika bidang bulan menjauh dari bidang ekuator, pasang surut di Bumi menjadi lebih kecil. Ketika orbit Bulan lebih sejajar dengan ekuator Bumi, pasang surut menjadi besar.


Sekarang, NASA mengatakan bahwa naiknya permukaan laut akibat perubahan iklim, dikombinasikan dengan pengaruh siklus nodal bulan akan menyebabkan peningkatan dramatis dalam jumlah banjir pasang di tahun 2030-an.

Benjamin Hamlington, ilmuwan peneliti dan pemimpin tim sains perubahan permukaan laut NASA, tertarik meneliti bagaimana permukaan laut merespons tindakan alam dan manusia, dan apa artinya bagi populasi pesisir. Sebelum pindah ke California, Hamlington tinggal di pesisir Virginia di mana banjir sudah menjadi masalah besar.

"Banjir air pasang mempengaruhi kehidupan masyarakat pesisir secara luas. Ini berdampak pada akses terhadap pekerjaan, mempersulit bisnis untuk tetap buka," kata dia.

"Sekarang ini hanya ketidaknyamanan, tetapi akan segera jadi sulit untuk diabaikan, sulit untuk dijalani."

Banjir ini, diperparah oleh pengaruh Bulan, akan merusak infrastruktur dan mengubah garis pantai, kata Hamlington.

"Kita mungkin melihat peningkatan jumlah banjir satu dekade ke dekade berikutnya hingga empat kali lipat. Siklus nodal bulan mempengaruhi semua lokasi di Bumi, dan permukaan laut naik di mana-mana. Jadi kita akan melihat cepatnya peningkatan banjir pasang di seluruh dunia."

Siklus nodal bulan mungkin akan meningkatkan banyak tantangan bagi manusia, tetapi bagi satwa liar di ekosistem pesisir, itu bisa jadi ancaman eksistensial.

Ilia Rochlin, profesor tamu di Universitas Rutgers mempelajari hubungan antara siklus nodal bulan dan populasi nyamuk rawa asin.

"Ketika siklus nodal berada pada puncaknya, air pasang membanjiri habitat nyamuk lebih jauh ke daratan," kata Rochlin.

Banjir pasang lebih sering terjadi saat ini, dan membawa serta killifish, kelompok beberapa ratus spesies ikan kecil yang ditemukan di air asin, payau, dan air tawar.

Predator ini akan menghilangkan atau mengurangi populasi nyamuk yang masih berwujud telur, larva atau pupa, sebelum mereka bisa terbang keluar dari air tempat mereka dilahirkan.

"Biasanya, ada lebih sedikit nyamuk di puncak siklus," kata Rochlin. "Pada palung siklus nodal, air pasang mungkin sangat jarang membanjiri habitat nyamuk, memberi mereka cukup waktu untuk muncul sehingga meningkatkan populasi mereka."

Dan bukan hanya nyamuk yang terpengaruh. Begitu banyak nyamuk adalah kesejahteraan bagi banyak spesies lain. Rawa asin tidak memiliki herbivora mamalia besar, tetapi ada invertebrata seperti udang, kepiting, siput, belalang dan serangga lainnya. Mereka, pada gilirannya akan menjadi sumber makanan utama bagi burung pantai dan ikan.

"Siklus nodal bulan puncak ditambah dengan peningkatan kenaikan permukaan laut menciptakan kemungkinan nyata akan tenggelamnya rawa asin," kata Rochlin.

Dan ketika invertebrata di rawa asin tenggelam, burung pantai, ikan dan spesies lain yang bergantung pada mereka akan sangat menderita.

Termasuk manusia, karena rawa asin merupakan bagian integral dari ekonomi global, berfungsi sebagai pembibitan bagi banyak kehidupan laut yang mencakup lebih dari 75% dari semua spesies perikanan.

Rawa asin juga memiliki kepentingan lingkungan yang signifikan, karena mampu menyimpan karbon jauh lebih besar daripada banyak ekosistem berbasis lahan.

Lahan basah air tawar, sementara itu, menyimpan hampir 10 kali lebih banyak karbon daripada situs air asin pasang surut, karena luasnya yang sangat besar.

Dengan meningkatnya banjir karena Bulan dan kenaikan permukaan laut, lahan basah air tawar juga dapat menghadapi perubahan besar.

Kristine Hopfensperger adalah ilmuwan lingkungan di Northern Kentucky University yang mempelajari salinisasi lahan basah air tawar. "Lahan basah pesisir air tawar mengalami fluktuasi pasang surut yang besar sepanjang hari, dan jauh lebih beragam daripada di rawa asin," kata dia.

"Banyak spesies adalah spesialis, jadi ketika bagian dasar rantai makanan mulai berubah komposisinya (dari komunitas spesies tanaman air tawar yang beragam menjadi komunitas tanaman toleran garam yang kurang beragam) maka hewan yang bergantung pada tanaman ini pun mulai berubah: burung, serangga darat dan sebagainya.

Spesies air tawar juga sangat dipengaruhi oleh peningkatan salinitas dan semakin terdorong ke hulu untuk tetap berada di air tawar.

"Salinisasi lahan basah pesisir air tawar akan terus meningkat dengan naiknya permukaan laut. Semakin sering banjir, semakin banyak lahan basah yang akan terkena dampaknya."

Pengaruh Bulan, terkadang halus dan terkadang mendalam, memiliki dampak formatif pada kehidupan di Bumi.

Bulan menstabilkan Bumi saat berputar pada porosnya, membantu memberi kita iklim yang stabil.

Tanpanya, Bumi akan bergoyang tidak menentu. Kutub akan bergerak nyata dalam kaitannya dengan orbit Bumi. Musim, siang dan malam, semuanya akan terlihat sangat berbeda.

Namun pasang surut yang mungkin telah memulai kehidupan di Bumi juga mendorong Bulan menjauh dari kita.

Setiap tahun, Bulan bergerak menjauh hampir 4 sentimeter dari Bumi karena pasang surut yang disebabkannya di Bumi. Bumi berputar lebih cepat daripada orbit Bulan, sehingga tarikan gravitasi dari tonjolan pasang surut menarik Bulan lebih cepat.

Saat Bulan berakselerasi, dia terlempar sedikit ke luar dan orbitnya menjadi lebih besar. Ini seperti ketika kita berdiri di bundaran di taman bermain, semakin cepat putarannya, semakin kita merasa seolah-olah terlempar keluar dari tengah.

Bulan adalah sekutu terdekat kita dalam luasnya Alam Semesta. Tanpanya, Bumi akan menjadi tempat yang sangat sepi.


Katherine Latham BBC Future
Next Post Previous Post