Imam Al Ghazali Mengatakan Pengetahuan Spiritual Timbul dari Kajian dan Renungan atas Diri Kita Sendiri


Imam Al Ghazali bertutur: Suatu bagian penting dari pengetahuan spiritual kita timbul dari kajian dan renungan atas diri kita sendiri yang menampakkan pada kita kebijaksanaan, kekuasaan, serta cinta Yang Maha Pencipta. 

 
Dengan kekuasan-Nya, Ia bangun kerangka tubuh manusia yang luar biasa dari hanya suatu tetesan air (sperma) belaka. Kebijakan-Nya terungkapkan di dalam kerumitan jasad kita serta kemampuan bagian-bagiannya untuk saling menyesuaikan.

Tiap unsur dalam diri kita senang dengan segala sesuatu yang untuknya ia diciptakan. Syahwat senang memuaskan nafsu, kemarahan senang membalas dendam, mata senang melihat obyek-obyek yang indah, dan telinga senang mendengar suara-suara yang merdu.

Di atas semua itu, pengetahuan tentang jiwa memainkan peranan yang lebih penting dalam membimbing ke arah pengetahuan tentangTuhan ketimbang pengetauhan tentang jasad kita dan fungsi-fungsinya. Jasad bisa diperbandingkan dengan seekor kuda dengan jiwa sebagai penunggangnya. Jika seorang manusia tidak mengetahui jiwanya sendiri - yang merupakan sesuatu yang paling dekat dengannya - maka apa arti klaimnya bahwa ia telah mengetahui hal-hal lain. Kalau demikian, ia bagaikan seorang pengemis yang tidakmemiliki persediaan makanan, lalu mengklaim bisa memberi makan seluruh penduduk kota.

Fungsi tertinggi jiwa manusia adalah pencerapan kebenaran, karena itu dalam mencerap kebenaran tersebut ia mendapatkan kesenangan tersendiri. Dan makin tinggi materi subyek pengetahuan didapatnya, makin besarlah kesenangannya.

Untuk memahami masalah jiwa lebih jauh, harus dipahami bahwa jiwa itu tumbuh. Ia berproses dari suatu kekuatan (kemampuan, potensi) menuju bentuk perbuatan.

Jiwa manusia memiliki dua sisi. Satu sisi menuju alam ruh (alam tinggi) dan sisi lain menuju alam bawah (alam materi). Dari sisi yang menuju alam tinggi ia mirip dengan malaikat dalam berbagai keutamaan dan pengabdian kepada Tuhannya. Sedangkan sisi yang menuju alam bawah membuatnya mampu berinteraksi dengan alam yang terformulasi dari unsur materi.

Kedua alam tersebut memiliki tuntutannya masing-masing, yang sering saling bertolak belakang. Inilah yang membuat jiwa manusia cenderung bingung dalam menjalani kehidupannya di dunia.

Alasan bagi kembalinya manusia ke dunia yang lebih tinggi adalah bahwa ia berasal dari sana dan bahwa ia bersifat malaikat. Eksistensi jiwa tak terganggu walaupun jasad rusak atau mati.

Manusia dikirim ke ruang yang lebih rendah ini demi memperoleh pengetahuan dan pengalaman, sebagaimana Allah berfirman di dalam al-Qur'an, "Turunlah dari sini kamu semuanya, akan datang padamu perintah-perintah dari-Ku dan siapa yang menaatinya tidak perlu takut dan tak perlu pula mereka gelisah."
 
"... Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup ..." (QS Al-Anbiya, 30)
 
 

 Kimia Kebahagiaan - Al Ghazali
Next Post Previous Post